TIGA BERSAUDARA

Dela Moris Lola Hamasee

Tiga bersaudara sedang berkumpul di ruang keluarga yang suasananya nyaman dan sejuk. Abel adalah anak pertama. Usianya lima belas tahun. Dia sangat cantik dan sangat pintar. Rambutnya yang hitam, halus dan ikal itu adalah salah satu dari kecantikannya.
Yofanca atau biasa dipanggil Cha – Cha itu adalah anak kedua. Umurnya empat belas tahun. Rambutnya yang panjang dan halus itu membuat dia terlihat cantik. Sayang, Cha – Cha agak tomboy. Rambutnya saja selalu diikat dengan karet rambut kesayangannya. Dia bilang si, supaya enggak acak – acakan.
Dinda adalah anak terakhir. Umurnya tiga belas tahun. Dia adalah anak yang pemalu di antara kedua saudaranya itu. Rambutnya yang panjang dan halus, menutupi bahunya. Dia sangat cantik dan pandai mengarang cerita.
Jam di dinding sudah menunjukkan waktu 20.00 WIB. Selesai makan malam,  ketiga bersaudara itu pergi ke kamar masing – masing untuk belajar.
“Aduuh… udah malem nih, aku belajar dulu ah!! besok kan ada ulangan Biologi.” Kata Cha – Cha sambil mencari buku Biologinya itu.
Tak terasa, jam weker yang ada di atas meja belajar Cha – Cha sudah mengarah ke angka sembilan. Cha – Cha yang sudah ngantuk itu langsung membereskan buku – bukunya.
“Aduuh.. ngantuk nih, Tidur ah!.” Cha – Cha langsung melompat ke kasur dan menarik selimutnya. Cha – Cha memang sudah tidur di kasurnya, tapi Abel malah tertidur di meja belajarnya.
“Whoooaaam.. aduuh.. ketiduran lagi!” kata Abel sambil meguap dan bergegas tidur di kasurnya. Kalau Cha – Cha dan Abel sudah tertidur pulas,  Dinda malah asyik dengerin musik di mp-3nya.
“Aduh.. udah jam sembilan lagi, aku pengen tidur ah..” Kata Dinda sambil meletakkan mp-3  di atas meja belajarnya.
Malam sudah sangat gelap. Ketiga bersaudarapun sudah tertidur pulas dikamarnya. Hari ke haripun terus berganti.
“Kriing…kriing” Bunyi jam weker Cha – Cha yang sudah mengarah ke angka tujuh.
“Whooaam…” Cha – Cha menguap dan matanya yang masih ngantuk itu tertuju pada jam wekernya.
“Hah?? Udah jam tujuh?? Aku harus cepet pergi ke sekolah nih, kalo enggak  aku gak bisa ikut ulangan Biologi.” Kata Cha – Cha sambil bergegas pergi ke kamar mandinya.
Selesai mandi Cha – Cha langsung bersiap – siap pergi ke sekolah.
“Cha!! Kamu mau kemana??” Kata Dinda yang kayaknya sih, juga baru pengen berangkat.
“Aduh Dinda, aku mau berangkat lah! Emang mau kemana lagi. Oh iya, kamu kok baru berangkat??” Tanya Cha – Cha bingung.
“Baru berangkat?? Emang, aku kalo berangkat jam segini kan??” Kata Dinda sambil melihat jam tangannya.
“Emang sekarang jam berapa??” Cha – Cha tambah kebingungan.
“Cha – Cha, ini tuh baru jam enam! Aku aja baru pengen berangkat. Oh iya, kamu kok tumben jam segini udah pengen berangkat??”
“Hah?? Jam enam?? Bukannya tadi aku liat di jam weker aku udah jam  tujuh??” Tanya Cha – Cha kebingungan.
“Ye… itu si – emang jam weker kamu aja tuh, yang ngacok!!” Bantah Dinda.
“Ngacok?? Kayaknya enggak deh!”
“Iya terserah kamu aja deh, aku pengen sarapan dulu, kamu enggak sarapan??” Kata Dinda sambil melangkahkan kakinya ke meja makan.
“Coba ah, emang iya – jam weker aku ngacok.” Kata Cha – Cha bingung dan pergi ke kamarnya lagi.
Sesampai di kamarnya, Cha – Cha terkejut karena memang benar jam wekernya yang ngacok.
“Hah?? Ternyata sekarang baru jam enam??” Kata Cha – Cha sambil melototkan jam wekernya itu.
“Cha..!! Cha – Cha.. kamu enggak sarapan Cha??” Kata Dinda sambil menawarkan Cha – Cha untuk sarapan.
Cha – Cha pergi kembali ke meja makan. Dan Dinda bertanya pada cha – Cha.
“Gimana Cha, jam weker kamu kan yang ngacok??” Kata Dinda sambil mengoleskan selai ke rotinya.
“Iya Din. Ternyata jam weker aku yang ngacok.” Kata Cha – Cha sambil menarik kursi makannya.
“Hai semua..!!” Sapa Abel, yang baru turun dari kamarnya.
“Hai Bel!! Sini, kita sarapan bareng!!” Ajak Dinda pada Abel.
“Oh iya. Din, Cha, kalian kenapa sih?? Kayaknya tadi aku denger kalian ngeributin jam weker??” Tanya Abel pada kedua adiknya itu.
“Enggak Bel, tadi tuh si Cha – Cha bilang, sekarang udah jam tujuh, padahal kan sekarang baru jam enam!!”
“Jam tujuh?? Aduuh Cha – Cha.. ini tuh baru jam enam!”
“Iya, tadi aku kira ini udah jam  tujuh, eh.. ternyata jam weker aku yang ngacok!”
“Oh.. ya sudah sekarang kan udah ketauan, yang salah itu jam wekernya Cha – Cha. Sekarang jangan ribut lagi ya!!”
“Iya.. kita enggak akan ribut lagi kok Bel!!” Kata Cha – Cha dan Dinda serempak. Selesai sarapan, mereka bertiga pergi ke sekolah. Sesampai di sekolah, Abel terkejut karena hampir saja pintu gerbang di tutup oleh Pak Dudo.
“Tunggu……” Kata Abel sambil melambaikan tangannya.
“Huh… hampir saja pintu gerbang ditutup.” Kata Abel sambil menarik nafas lega.
“Aduuh.. Abel.. Abel… kamu ini kenapa??” Kata Pak Dudo  sambil menggelengkan kepalanya.
“Sa..Saya kesiangan pak!!” Kata Abel dengan kata terpatah – patah.
“Oh.. ya sudah, cepat sana masuk! Ingin saya tutup pintu gerbangnya.” Kata Pak Dudo.
Sesampai di kelas, Bu Via guru B. Inggris sudah ada di kelas.
“Pagi bu…!!” Sapa Abel pada Bu Via.
“Pagi.  Abel..!! Kenapa kamu baru datang??” Tanya Bu Via kepada Abel.
“Saya kesiangan bu.”
“Oh.. ya sudah. Karena kamu hanya terlambat tiga puluh menit dari bel masuk, kamu saya izinkan duduk.” Kata Bu Via.
“Bener Bu??” Abel senang karena dia diizinkan masuk. Abel duduk dan mengeluarkan buku B.Inggrisya.
“Ok anak – anak, sekarang keluarkan buku B. Inggris kalian halaman 56 dan kerjakan soalnya.” Perintah Bu Via.
“Bel!! Kamu kenapa kok baru dateng??” Tanya Chika, Teman sebangku Abel.
“Aku kesiangan Chik!!”
“Oh.. kamu kesiangan?? Ya udah yuk, kita kerjain dulu soalnya, nanti kita diomelin lagi sama Bu Via.”
Abel, Chika dan murid – murid yang lainpun mengerjakan soal yang diberi Bu Via.
“Kriiing….” Bel di sekolah Abel sudah berbunyi. Waktunya istirahat. Anak – anak berlarian keluar.
“Chik!! Kita ke kantin bareng yuk!!” Ajak Abel sambil menggandeng tangan Chika.
“Iya Bel!!” Mereka berdua pergi ke kantin bersama.
Sesampai di kantin, Abel dan Chika duduk di bangku kantin.
“Chik!! Kamu mau makan apa??” Tawar Abel.
“Aku bakso aja deh Bel!!”
“Oh.. ya sudah. Aku pesan dulu ya baksonya.” Kata Abel sambil bergegas memesan bakso pesanannya.
“Mba!! Aku pesan baksonya dua mangkok ya!!” Kata Abel memesan makanan.Mba Dian membuatkan dua mangkuk bakso untuk Abel dan Chika.
“Abel!! Ini baksonya” Kata Mba Dian sambil memberikan baksonya pada Abel.
“Oh.. makasih ya mba!!”
“Iya, sama – sama Abel.” Abel dan Chika memakan baksonya dengan lahap.
“Kriiing…Kriiing……” Bel di sekolah sudah berbunyi.  Abel dan Chika kembali ke kelas. Sekarang jam pelajarannya Pak Daniel. Yaitu Biologi.
“Selamat siang anak – anak!!” Sapa Pak Daniel.
“Selamat siang Pak…” Jawab anak – anak serempak.
“Anak – Anak.. hari ini kita belajar penelitian ya!!” Kata Pak Daniel menerangkan.
Sudah setengah jam Pak Daniel menerangkan pelajaran Biologinya. Tapi anak – anak malah asyik ngobrol sendiri.
“Kriing…Kriing..” Bel di sekolah berbunyi. Sekarang sudah waktunya pulang. Anak – anak serempak lari keluar kelas.
“Chik!! Aku pulang duluan ya! Aku gak bisa lama – lama.” Kata Abel sambil melangkahkan kakinya keluar kelas.
“Oh.. ya udah Bel!!”
Abel pulang meninggalkan sekolahnya.  Sesampai di rumah, Abel terkejut karena Dinda dan Cha – Cha memberikan kejutan padanya.
“Happy Birthday Abel!!” Dinda Dan Cha – Cha mengucapkan kata itu serempak.
“Dinda?? Cha – Cha?? Ini semua kalian yang buat??” Abel terkejut melihat adiknya memberikan kejutan untuknya.
“Ya ampuun.. makasih ya semua! Aku seneng.. banget dapet kejutan dari kalian.” Kata Abel sambil tersenyum bahagia.
“Iya Bel!! Sama –  sama, lagian ini enggak seberapa” Kata Dinda.
“Tapi, ini semua buat aku sangat meriah!!” Kata Abel sambil menjatuhkan air mata.
“Kriiing…kriiing..”  bunyi telepon rumah Abel.
“Biar aku aja yang angkat!!” Kata Dinda.
“Hallo…, selamat siang.. ingin bicara dengan siapa??” Tanya Dinda.
“Hallo Din.. ini mama,” Ternyata yang menelpon itu adalah mamamya.
“Mama?? Ini beneran mama??” Dinda terkejut karena yang menelepon itu mamahnya. Abel dan Cha – Cha ikut terkejut mendengar kata itu.
“Iya sayang.. ini mama.. kamu lagi apa??”
“Aku lagi ngerayain ulang tahunnya Abel ma..” Kata Dinda, masih terkejut.
“Iya.. mama juga tahu kok, Oh iya.. mama boleh enggak ngomong sama Abel??” Pinta mama.
“Boleh kok ma.. sebentar ya..”
“Bel… ini mama pengen ngomong.” Kata Dinda sambil memeberikan teleponnya.
“Hallo mama.. ini aku Abel..”
“Iya hallo sayang..  Abel… mama kangen banget sama  kamu,  kamu lagi apa??”
“Aku lagi ngerayain ulang tahun aku ma..”
“Iya. mamah juga udah tau itu kok,  maaf ya.. mama sama papa enggak bisa dateng!”
“Iya mah.. enggak papa kok.. aku udah seneng kok, disini ada Dinda sama Cha – Cha.”
“Iya.. mama janji besok mama sama papa akan pulang..”
“Bener ma??”
“Iya, bener. Tapi kamu harus janji sama mama kamu harus bisa jagain adik – adik kamu!!”
“Iya ma,!! Aku janji.”
“Ya udah, udah dulu ya sayang. Mama harus kerja lagi.”
“Iya ma. Mama kerja aja dulu. Nanti kalo udah selesai mama baru pulang!!”
Akhirnya percakapan antara Abel dan mamahnya hanya sampai disitu.Jam di dinding sudah mengarah ke angka sembilan. Saatnya Abel dan kedua saudaranya tidur.
Sang mentari sudah menyinari bumi. Burung – burung indah berterbangan di langit. Hari ke haripun berganti.
“Kriing.. Kriing..” Bunyi jam weker Abel. Abel bangun dari tidurnya dan beranjak pergi ke meja makan. Setiba di meja makan abel terkejut karena mama dan papahnya pulang dari luar kota.
“Mama?? Papa??” Abel  yang baru bangun tidur dengan mukanya yamg kusam itu jadi berubah tersenyum bahagia.
“Sayang.. mama kangen.. banget sama  kamu”
“Iya ma.. aku juga kangen sama mama sama
papa.”
Mereka berpelukan dan melepaskan rindu kangen sesama. Akhirnya mereka sekeluarga hidup bahagia. Selamanya.

____________________________________________________________

TEMAN SEJATI

Mega Nadia Fitri

Kriiing……… kriiing……… bel tanda masuk sekolah sudah berbunyi.Sudah waktunya pintu gerbang di tutup.Beginilah kalau sekolah di SD negeri yang disiplinnya tinggi.Lebih dari satu menit ,nggak ada toleransi.
“Tungguuu………” Seru seorang anak kecil berambut sebahu yang diikat di belakang.Dia sedang berlari kencang ke  arah sekolah.Tapi penjaga sekolah tak menghiraukannya dan terus menarik gerbang tiba-tiba saja anak itu sudah melesat di depannya.
“Huff………masih sempet………,” Gumam anaki itu terengah rengah.
“Titan Anisa,kelas IV terlambat 10 detik dari waktu bel berbunyi.Hari ini bisa lolos lagi ya!” Ujar penjaga sekolah itu.
“HeHeHe………nggak pa-pa kan pak? yangpenting masih sempet!” Jawab anak itu sambil nyengir.
“Ya sudah,sana masuk kelas!”
“Makasih pak,” Sahutnya. Lalu anak itu langsung berlari ke arah kelasnya. Sesampainya di kelas,seorang cowok yang lumayan cakep dengan rambut di belah pinggir langsung menyambutnya.
“Nisa!telat lagi ya!ini udah yang ke tiga kalinya sejak masuk SD!udah tau peraturan ketat,masih juga ngaret!telat satu menit saja udah gak boleh masuk,kan!”
“Maaf, tuan besar!tapi hari ini cuma telat 10 detik kok!” Sahut anak yang akrab di panggil nisa itu sambil berlalu menuju ke bangkunya.
“Telat yaaaa!lagian..,emangnya loe nggak bisa bangun lebih pagi apa? Perasaan waktu TK loe gak pernah telat,deh!”
“Gini ya,” Ary nggak sempet ngelanjutin omongannya karena seorang Bapak berkumis tebal sudah memasuki kelas.
“Ehemm!”
“Berdiri!Beri salam!” Seru Ary sang Ketua kelas.
“Selamat pagi, pak!” Seru anak-anak serempak.
“Selamat pagi!” Jawabnya datar.
“Buka buku kalian halaman 63, kerjakan no 1-10 di kumpulkan!” Perintahnya. Kemudian para murid pun sibuk menunduk sambil menggerutu. Bagi mereka yang berencana mengambil jurusan IPA di kelas VI nanti, mereka bersumpah akan membuang buku Ekonomi sialan ini begitu kenaikan.

Jam istirahat
Nisa sedang duduk di kantin dengan semangkuk bakso dan segelas es jeruk di depannya. Baru saja dia mau makan, ketika Ary datang menghampirinya.
“Tumben sendirian?”
“Iya nih, si putri gak masuk!”                “Oh………kalo gitu, guwe duduk di sini, ya?” Kata Ary sambil menarik kursi yang ada di depan Nisa.
“Duduk aja, nggak ada yang ngelarang kok! Kursi ini kan bukan punya guwe”! Jawabnya cuek sambil terus makan.
“Duh, galak banget! Ngambek gara-gara nggak guwe kasih contekan,ya?”
“Enggak, tuh..! Guwe kan bisa mikir sendiri! Lagian, lo ngapain di sini? Biasanya sama si monik, Nabila, Dela?”
“Kalo Dela lagi sakit. Yang lain lagi pada cabut. Nggak ngajak, lagi!”
“Lo sih, biar diajak juga enggak bakal mau kan? Biasa…., anak alim!” Kata Nisa dengan senyum mengejek.
“Ngeledek ya? Guwe males cabut! Paling-paling kemana gitu.. nyari cewek!”
“Mang loe nggak pengen cari cewek?”
“Ah, dengan wajah yang ganteng gini, guwe nggak perlu cari cewek! Malah mereka yang datang nyari guwe!” Jawab Ary sambil menyibakkan poninya dan menampilkan senyuman yang menurut Nisa sih………… noraaaaak………
“Dih, Gr nya! Asal lo tau, guwe nggak termasuk ya! Buktinya, elo yang nyamperin guwe!”. Nisa nggak mau kalah.
“Elo sih nggak kayak cewek! Cewek tuh mestinya imut-imut, kalem, terus bagusnya kalo rambut panjang!”
“Oh, maaf deh! Guwe emang enggak imut, sradak-sruduk, and rambut guwe pendek!Tambahan lagi, guwe bisa ngehajar anak berandalan sendirian!”. Ujar Nisa ketus.
“Emang pernah?” Tanya Ary dengan muka keheranan.
“Enggak sih, tapi kayaknya bisa aja! Guwe kan bukan cewek!” Jawab Nisa masih ketus
“Ya ampun, ngambek nih? Engga kok,tadi guwe cuma bercanda!lo juga manis kok !manis banget. Beneran deh!” Rayu Ary sambil tersenyum dimanis -manisin.
“Kalo nisa marah, bisa-bisa melayang lah contekan Bahasa Inggrisnya.
“Oke,oke,guwe percaya. Loe orang ke-1274 yang ngomong gitu.” Sahut nisa dengan tampang narsis.
“Heh………narsisnya………” Komentar Ary dengan tampang males.
“Sama kaya yang ngomong.” Balas Nisa sambil menjulurkan lidahnya. Nisa lalu meneguk es jeruknya dan mengangkat gelas itu tinggi-tinggi. Setelah itu meletakkannya lagi di meja keras-keras. Lalu mengusap bibirnya dengan tangan sambil bilang.
”Aaaah…. seggerrr!” Ary Cuma bisa nyengir kecil ngeliat kelakuan temannya dari SD yang menurutnya nggak mirip cewek itu

Pulang sekolah
Nisa sedang berdiri di jalan dekat sekolahnya. Angkot yang dari tadi lewat selalu saja penuh. Dia mulai bete karena panasnya Jakarta di siang hari yang sangat meyengat.
“Duh, udah setengah jam masih disini juga!Padahal kan harus naik angkot tiga kali!” Gumam Nisa kesal. Peluh mulai mengucur di wajahnya.
“Mana panas banget lagi! Sial bener guwe!”
Tiba-tiba,sebuah sepeda motor berhenti di dekatnya. Cowok yang mengendarai kelihatannya mahasiswa. Dia lalu melepas sun-glass-nya di depan Nisa lalu menyibakkan rambutnya yang poni.
“Hai,cewek!nunggu angkot ya? Guwe anterin pulang, yuk?” Sok caper amat, pikir Nisa.
”Nggak usah, makasih! Lagi gak pengen naik ojek!” Sahut Nisa
“Apa kata loe? Enak aja guwe dikatain ojek!Lo gak tau harga motor gw berapa??”
“ Emangyna berapa harga motor loe? Tanya Nisa sambil mengejek.
“Oh, bukan yah? Kirain situ tukang ojek! Habis, yang biasanya nawarin bonceng kan tukang ojek!” Jawab Nisa cuek. Cowok itu kelihatannya mulai kesal. Dia lalu menarik tangan Nisa dengan kasar.
“Eh, apa-apaan ni? Lepasin!” Nisa mencoba melepaskan tangannya, tapi genggaman cowok itu semakin kuat.
“Ayo lah, ikut aja! Ntar guwe antar sampai rumah, kok! Jangan malu-malu!”
“Enggak usah! Lepasin!”
“Ayo dong, manis! Ikut aja…….”

Tiin……tiin…… suara klakson sepeda motor di belakang motor cowok itu. Ternyata Ary. Wajahnya kelihatan terang.
“Ary!!!” Ary lalu turun dari motornya. Dia menghampiri Nisa dan melepas tangan cowok itu dari tangan Nisa.
“Eh, apa – apaan loe!!” Seru cowok itu. Ary lalu melirik tajam ke arah cowok itu sambil menggandeng Nisa.
“Harusnya guwe yang Tanya!! Mau apa loe pegang – pegang cewek guwe!? Nisa, ayo pulang!!” ujar Ari sambil memberikan helm.
“Eh, I, iya…,,” Sahut Nisa masih agak bingung sambil naik ke motor Ary. Ary lalu menjalankan motornya dan melewati cowok tadi.
“Cih, sialan!!” gumam cowok itu. Dia lalu berbalik arah dan mengebut.
“Dasar cowok reseh!! Makasih ya, Ry, dan, loe sampai repot – repot ngaku jadi pacar guwe dan nganterin pulang!!”
“Enggak papa!! Rumah kita kan searah!! Lagian, selama ini juga banyak yang ngira kita pacaran! Guwe udah biasa.”
“Loe ngomong gitu kesannya loe rugi disangkain pacar guwe!! Ya maaf deh, kalo guwe nyusahin!”
“Enggak, bukan gitu!! Sensi banget sih!!” Ujar Ary sambil cekikikan.
“Maksud guwe, guwe enggak keberatan dikira cowok loe! Toh, guwe belum punya cewek!”
“Oh..,” Nisa manggut – manggut aja.
“Eh, tapi beneran enggak papa?? Entar kalo ada cewek yang suka sama lo, terus ngeliat kita balik bareng bisa – bisa salah paham loh.”
“Hhm… bener juga ya..,” Gumam Ary. Tiba – tiba dia menepikkan motornya dan berhenti, lalu ngomong lagi,
“Kalo gitu loe turun deh sekarang.!”
“Hah??!! Yang bener aja lu mau nurunin guwe disini??! Enggak mau!! Loe mesti tanggung jawab anterin guwe sampe rumah. Kalo enggak, guwe bakal pasang muka bete tiap kali ketemu loe!”
“Wah, jangan ngambek dong!! Kan guwe cuman bercanda,” bujuk  Ary sambil nyengir dibalik helmnya.
“Biar!!”
“Ngomong – ngomong, loe sering ketemu cowok kaya tadi.??” Tanya Ary mengalihkan topik, biar Nisa enggak ngambek lagi.
“Eh?? Yah lumayan sih. Tapi biasanya enggak sampe maksa gitu, cuman iseng doang!! Apa gara – gara guwe katain ojek, ya??”
“Sa! Loe harus hati – hati sama cowok kayak gitu.!! Biar loe se-tomboy apapun, loe tetep cewek!! Lagian, wajah loe enggak jelek –jelek amat!”
“Loe ngeledek, ya!’’
“Guwe serius! Wajah loe tuh manies! Makanya, bahaya kalau jalan sendirian! Jangan ngatain sembarangan! Ntar kalau diculik gimana??”
“Makasih. Oh iya, loe mau enggak jadi temen guwe? Guwe tuh selalu sendirian.” Pinta Nisa.
“Ya ampuun Nis.. guwe mau kok jadi temen loe,”
“Makasih ya Ry.. loe udah banyak nolongin guwe dan sampe – sampe loe mau jadi temen guwe. Beneran guwe seneng banget, denger loe mau jadi temen guwe.”
Akhirnya Nisa dan Ary menjadi teman sejati. Mereka juga berjanji akan saling menjaga satu sama lain.

___________________________________________________________

KASIH SAYANG IBU

Dewi Anggraeni

Di sebuah desa hiduplah seorang ibu yang bernama Ranty. Dia mempunyai anak laki-laki dan perempuan yang bernama Rudy dan Elly. Mereka mempunyai sifat  yang berbeda. Rudy pemarah, keras kepala dan  sombong. Sementara Elly, pemaaf, sabar dan tabah. Pagi-pagi sekali ibu Ranty dan Elly pergi ke sawah untuk menghidupkan kedua anaknya. Akan tetapi, Rudy malas bekerja ia tidak bisa menghidupi dirinya sendiri. Sementara di sawah, ibu Ranty bertanya pada Elly.
“Ly!!! Kamu udah siapin makanan buat kakak kamu??”
“Belum Bu!!,”
“Ya sudah, sana kamu siapin makanan dulu buat kakak kamu, nanti dia marah lagi!!” Perintah Ibu. Keesokan harinya …………………………
Rudy hendak pergi kekota tetapi ibunya tidak mengizinkan dia pergi ke kota. Rudy tidak peduli dengan kata-kata ibunya, dia malah meninggalkan keluarganya.
’’Bu, kenapa kak rudy tinggalin kita bu..?”
“Ibu juga tidak tahu!”
“Tapi Bu, kita tidak diajak!!”
“Ya paling cari kerjaan di kota.”

beberapa bulan kemudian …………………………….

Ibu Ranty dan Elly pergi ke kota untuk mencari Rudy. Ketika sudah bertemu Rudy, Rudy malah berpura – pura tidak mengenali keluarganya sendiri.
Akhirnya, Ibu Ranty bersama Elly tinggal di kota untuk beberapa hari. Rudy yang tidak mengakui keluarganya itu, malah pergi senang – senang dengan teman – temannya. Di tengah perjalanan, Rudy dan temannya itu menabrak sebuah pohon besar. Rudy mengalami luka parah di tubuhnya. Mendengar berita itu, Ibu Ranty kaget dan langsung pergi ke rumah sakit di mana Rudy dirawat.
Sesampai di rumah sakit, Ibu Ranty dan Elly masuk ke dalam kamar di mana di dalamnya ada Rudy. Dikamar itu, Ibu Ranty bertemu dengan Rudy.
“Rudy… kamu gak papa nak??” Kata Ibu Ranty sambil memeluk Rudy.
“Bu.. maafin Rudy, ya!!?? Mungkin ini balasan dari Allah atas semua yang telah Rudy lakukan pada Ibu dan Elly!! Maafin Rudy ya Bu, Ly!!” Kata Rudy sambil memeluk Ibunya.
“Ka..!! Kita udah maafin kakak dari dulu kok,!!”
“Makasih ya Ly,,!! Kamu emang adik kakak yang baik!!”
“Iya kak, sama – sama!!.”  Akhirnnya, Ibu Ranty dan kedua anaknya, Rudy dan Elly hidup bahagia di kota untuk beberapa hari.
Beberapa hari kemudian, Rudy datang menemui Ibunya dengan membawa seorang gadis cantik yang bernama Renny.
Rudy memperkenalkan Renny pada Ibunya dan Elly. Setelah banyak bicara dengan Renny, Ibu Ranty yakin bahwa Renny yang terbaik untuk Rudy. Akhirnya, Ibu Ranty, Elly, Rudy dan Renny pulang ke desa.
Sesampai di desa, Rudy dan keluarganya di sambut oleh teman – teman Rudy. Tapi, teman – teman Rudy kebingungan melihat ada seorang gadis di samping Rudy.
“Bu!!…. itu siapa??” Tanya salah satu teman Rudy.
“Oh…!!! Itu Renny, pendampingnya Rudy..” Kata Ibu Ranty menjelaskan.
Setelah beberapa lama memperkenalkan Renny pada warga setempat, Ibu Ranty dan keluarga masuk ke dalam rumah. Mereka semua hidup bahagia di desa. Ibu Ranty dan Elly tidak lupa dengan pekerjaannya sehari – hari, yaitu ke sawah.
“Ly!! Kita ke sawah yuk!!” Ajak Ibu.
“Ibu!! Mau kemana Bu?? Kan baru nyampe??” Kata Renny.
“Ibu mau ke sawah Ren!!”
“Oh.. kalo begitu saya ikut ya bu!!” Pinta Renny.
“Gak usah Ren, kamu di sini aja, nanti si Rudy kelayapan lagi!!”
“Oh.. ya udah kalo gitu.” Ibu dan Elly pergi ke sawah dengan hati gembira. Beberapa hari kemudian……………
Ada seorang pemuda tampan yang mengajak Rudy beserta keluargannya bekerja dan tinggal di sana. Ibu dan keluarga sangat senang mendengar berita itu dan setuju untuk tinggal di sana. Rudy beserta keluarganya pergi ke kota.
Walaupun sudah tinggal di kota, Ibu Ranty dan keluarganya tidak pernah lupa dengan orang – orang di desa.
“Rud!! Ibu kangen sama orang – orang di desa!!” Kata Ibu.
“Iya bu!!, memangnya Ibu mau ke sana??”
“Mau!!.. mau banget Rud!!”
“Ya sudah bu, Ibu kesananya sama Renny saja!!”
“Iya bu, besok pagi – pagi banget kita ke desa ya!! Aku mau kok, nemenin Ibu!!”

Keesokan harinya…………………
Ibu Ranty dan Renny datang ke desa membawa bingkisan. Ibu Ranty membagikan bingkisan itu pada warga – warga disana.
Setelah membagikan ingkisan, Ibu Ranty berniat untuk mengajak semua warga desa tinggal di kota.
“Selamat siang!!” Sapa Bu Ranty pada temannya.
“Selamat siang juga teman ku!! Kamu kok tumben kesini??”
“Aku ingin ajak kalian tinggal di kota”
“Kami sih, mau saja, tapi rumah dan sawah bagaimana??”
“Keluarga kalian juga ikut!!”
“Tapi, bagaimana dengan sawah??”
“Kamu enggak usah khawatir, kebetulan ada yang ingin membeli sawah kamu!!”
“Tapi, orangnya adil dan jujur kan??”
“Yang pasti, bisa sejahterain rakyat!!”
Akhirnya, teman Bu Ranty mau juga ikut ke kota.
“Ren!!! Ayo, kita pulang.”
Sesampai di kota, Ibu Ranty mengajak teman Bu Ranty ke rumah yang akan ditempati.
“Nah.. ini rumah kamu! Jadi sekarang, kamu tinggal disini ya!!”

Keesokan harinya…………

KRING…………KRING………KRING
Jam beker bu Ranty, Rudy dan Renny berbunyi. Rudy langsung pergi ke kamar mandi dan langsung mandi. Selesai mandi, Rudy pergi bekerja dan Bu Ranty pergi ke rumah temannya itu.
Bu Ranty bersama temannya pergi ke desa. Bu Ranty ingin melihat bagaimana keadaan desa. Sesampai di desa, ternyata desa masih seperti dulu, warga – warganya pun masih hidup tentram.
Teman Bu Ranty, dan Bu Ranty pergi ke kota. Teman Bu Ranty membeli hadiah untuk Bu Ranty karena besok Bu Ranty ulang tahun.

KRING…………………KRING
Jam beker Rudy, Renny, Elly dan Bu Ranty berbunyi. Hari ini Bu Ranty ulang tahun. Dan ternyata teman – teman Bu Ranty datang untuk memberikan surprise kepada Bu Ranty.
“Happy birthday…” Kata teman – teman Bu Ranty.
“Happy birthday bu…” Kata Rudy, Elly dan Renny.
“Terima kasih ya semuanya..” Kata Bu Ranty sambil tersenyum bahagia. Mereka merayakan ulang tahun Bu Ranty dengan meriah. Tiba – tiba, datang teman Elly yang bernama Nindy.
“Selamat malam tante!!”
“Selamat malam! Eh.. kamu Nindy kan??”
“Iya tante. Oh iya, denger dari Elly, katanya tante ulang tahun ya?? Selamat ulang tahun ya tante!!”
“Aduuh.. makasih ya Nindy..”
“Iya tante.. sama – sama.”
Mereka melanjutkan acaranya dan berbahagia bersama.
“Tante!! Udah malem nih, aku pulang dulu ya??”
“Oh.. ya sudah.. gak papa kok, hati – hati di jalan ya!!”
Setelah selesai berpesta, teman – teman Bu Ranty pulang. Di tengah perjalanan, teman Bu Ranty menabrak seorang gadis. Lalu gadis itu dibawa ke rumah sakit.
Sesampai di rumah sakit, dokter meriksa anak itu. Setelah dokter meriksa, dokter kembali keluar.
“Dok?? Bagaimana keadaan anak itu??”
“Oh.. dia tidak apa – apa, hanya ada luka kecil di kakinya.”
“Saya boleh masuk dok??”
“Oh ya, silahkan!!”
“Nak?? Kamu tidak apa – apa??”
“Ibu siapa??”
“Tenang nak!! Saya tidak jahat!!”
“Nama Ibu siapa??”
“Nama saya Susi. Tadi saya tidak sengaja
menabrak kamu!! Maaf ya!!”
“Iya bu, tidak apa – apa!!”
“Oh iya.. nama kamu siapa??”
“Nama saya Nany bu…”
“Rumah kamu di mana??”
“Rumah saya di jalan Cempaka 2 No. 25”
“Oh.. kalau begitu kamu saya antar ya??!!
Kebetulan rumah kita searah!!”
“Terima kasih Bu!!”

Sesampai di rumah Nany.
“Selamat malam Bu..”
“Selamat malam!! Nany?? Kamu kenapa?? Kok pulangnya bareng dengan ibu ini??” Tanya Ibu Nany kaget.
“Tadi gak sengaja saya menabrak Nany bu, tapi saya sudah bawa dia ke dokter kok!!”
“Oh.. ya sudah. Terima kasih ya!!”
“Iya bu..! ya sudah, saya pulang dulu ya Bu!!”
“Loh?? Gak masuk dulu??” Tawar Ibu Nany.
“Enggak Bu, terima kasih saya harus pulang, besok saya datang lagi kesini.”

Keesokan harinya……
Kring………kring………kring………kring! Handphone Bu Ranty berbunyi.
“Hallo.. Bu Susi?? Ada apa, nelepon pagi – pagi??”
“Gini loh bu, saya mau ajak ibu main!!”
“Main ke mana??”
“Udah… nanti juga Ibu tahu, ya sudah, saya jemput ibu satu menit lagi ya!!??”

Ting……… tong………ting………tong! Bel,rumah Bu Ranti berbunyi, akan tetap Ibu Ranti belum selesai dandan.Bu Susi lalu mengajak Bu Ranti ke rumah Nany. Sementara Nany tidak ada tiba-tiba saja handphone  Bu Ranti berbunyi.
“Bu!!! Ibu ada dimana si?? Aku sama Elly sudah pulang nih??”
“Iya.. ibu lagi di rumah temen Ibu..! Kamu tunggu sebentar ya..!”
“Bu…!! Kita pulang yuk!! Rudy sudah pulang nih,,”
“Oh ya sudah, lagian Nany juga tidak ada.”

Sesampai di rumah Bu Ranti
“Bu!! Ibu dari mana aja si??”
“Tadi Ibu habis nemenin tante Susi pergi!!”
“Oh.. ya sudah..”

Keesokan harinya, Elly di kamar melihat tanggal di kalender. Besok dia ulang tahun tapi keluarganya lupa dengan ulang tahun dan dia langsung mengambil pulpen dan diarynya lalu menulis.

‘’ dear diary”
Kenapa disaat besok aku ulang tahun keluarga ku tidak tahu. Sementara Nindy, selalu ingat ulang tahun ku. Apa keluargaku lupa sama ulang tahun ku.

KRING…………KRING………KRING!Jam beker Rudy berbunyi. Ia melihat kalender.
“Wah!! Besok kan Elly ulang tahun!! Masa ulang tahun adik aku sendiri, aku lupa!!” Rudy langsung pergi ke kamar Ibunya dan membangunkan ibunya.
“Bu..!! Bangun bu!”
“Ada apa sih Rud??”
“Bu!! Besok kan ulang tahunnya Elly…!!”
“Oh iya, ibu hampir lupa sama ulang tahun Elly!!

Sementara mereka sibuk menyiapkan pesta buat Elly, Rudy sibuk berbelanja untuk ulang tahun Elly.
Malam telah tiba sementara Elly masih merenungi karena keluarganya lupa kalau dia besok ulang tahun. Elly langsung pergi ke kamar untuk tidur.

Keesokan harinya,
KRING……KRING………… KRING……
“Hai!!.. nama aku Elly! Nama kamu siapa??”
“Aku Anned!!”
“Oh iya, kenalin, ini teman – teman ku!!”
“Hai!!..”
“Hai juga…”

Sesampai dirumah….
Ting ………tong………ting………tong………
“Eh Elly.!!! Sudah pulang Ly??”
“Sudah kak!! Ibu mana??”
“Ibu tidak ada!!”
“Kalau kak Rudy??”
“Kak Rudy barusan aja pergi!!”
“Kemana kak??”
“Kak Nesha juga gak tahu tuh Ly!!”

Akhirnya Elly langsung naik ke atas untuk ke kamarnya – langsung menaruh tas dan  ke meja makan untuk makan siang. Selesai makan siang, Elly beristirahat sebentar.
“Elly… bangun Ly!!” Kak Nesha membangunkan Elly.

Setelah bangun tidur, Elly langsung mengerjakan pr Matematikanya. Tiba – tiba Nindy menelepon.
“Ly!! Kita jalan – jalan yuk!! Udah lama nih, kita enggak jalan – jalan!!” Ajak Nindy.
“Enggak ah..!! aku lagi ngerjain pr Matematika. Emang kamu udah selesai??”
“Belum sih!! Tapi kan bisa nanti malem!!!” Bantah Nindy. Sementara Elly sendirian kakaknya pergi bersama kak Nesha. Ibu, ayah belum pulang kerja. Lalu Elly mengambil pulpen dan diary.

“ dear diary” …Hari ini aku sendirian sekali. Keluarga ku ninggalkan aku sendirian di rumah, kakak mentingin jalan sama kak Nesha.

Tak lama kemudian Ibu Ranty pulang.
“Ibu?? Ibu dari mana aja sih???”
“Ibu kan, cari nafkah buat kamu sama kakak Ly!!”
Ternyata Elly sadar ibunya sayang sekali sama keluarganya apalagi sama Elly dan Rudy. Elly dan Rudy mempertahankan hubungan dengan keluarganya juga dengan ibunya. Elly tidurnya nyenyak sekali sampai kesiangan sekolah.
“Ly… bangun Ly…!”
Ternyata Elly sakit. Badannya panas. Akhirnya Elly tidak sekolah dan ibu yang merawatnya. Karena demam Elly sangat tinggi. Ibu Elly membawa Elly ke rumah sakit. Dokter meriksa Elly. Kata dokter, agar Elly cepat sembuh, Elly harus istirahat hingga 3 s/d 4 hari.
Karena Elly memaksa untuk sekolah, akhirnya Elly sekolah. Sesampai di sekolah, Elly pusing – pusing dan Elly pingsan. Untung saja ada teman – teman Elly. Akhirnya Elly dibawa ke UKS untuk beristirahat sejenak.
KRING…………KRING…………KRING …! Bel tanda masuk sekolah berbunyi dan di kelas guru B.Indonesia masuk ke kelas Elly dan bertanya,
“Kemana Elly??” Tanya Bu Shinta.
“Bu?? Tadi Elly pingsan. Jadi Elly sekarang lagi di UKS!!” Kata Nindy menjelaskan.
Jam istirahat.
KRING…………KRING…………KRING…! Waktu istirahat berbunyi, anak-anak pergi ke kantin. Tapi Elly  masih di UKS. Teman-teman Elly datang ke UKS menjenguk Elly. Untung aja jam istirahat Elly sadar, teman-teman Elly langsung ke kantin untuk makan supaya Elly tidak sakit lagi.

Di kantin.
“Elly!! Kamu udah sembuh??” Tanya Tina.
“Udah kok Tin, tapi muka kamu masih pucet,”
“Ya gak papa!! Yang penting aku udah agak sembuhan!!”
“Ya udah!! Kita makan yuk!!”
Mereka makan bersama dengan lahap. Elly pulang karena ia takut pingsan lagi. Sesampai di rumah. Elly terkejut karena keluarganya memberikan kejutan untuknya.
“Happy birthday Elly!!” Kata Kak Rudy dan Bu Ranty.
“Ya ampuun.. makasih ya semua!!”
“Iya Ly.. sama – sama!!. Oh iya, maafin kita ya, kalau kita kemarin sibuk jalan – jalan.”
“Iya Ly, kita jalan – jalan itu.., buat beli peralatan ulang tahun kamu!!”
“Iya – gak papa kok, aku seneng kalian inget ulang tahun aku!! Makasih ya..”
Nah.. itulah kasih sayang seorang Ibu pada anaknya.

___________________________________________________________

PERSAHABATAN

Nurani Puspita Damayanti

Pada suatu hari Mira dan Cha-cha bersahabat. Mereka berdua ingin mempunyai kesamaan karena untuk menyayangi satu sama lain tetapi mereka berdua diejek oleh temannya yang bernama Cyntia.  lalu mereka diam saja tidak menghiraukan mereka yaitu Cyntia.Cyntia lalu mengadu kepada temannya yang bernama Acha, lalu Acha langsung memearahi Mira dan Cha-cha.

Sudah jam istirahat….
“Mira, Cha-cha…,! kamu apakan temanku?!!”Tegur Acha yang langsung menampar Mira.
“Aku tidak menggangu Cyntia kok Cha!!..” Jawab Mira.
“Iya Cha, benar apa yang dikatakkan oleh Mira” Jawab salah satu sahabat Mira.
“Bohong kamu, kamu pasti bohong sama aku…!” Kata Acha.
“Tidak kok Cha, aku tidak bohong sama kamu…!” Bantah Cha-cha.
“Ya,sudahlah cha jangan menghiraukan mereka,mereka pasti akan sadar kalau kita tidak bersalah.
“Ya,sudah ayo kita ke kantin..!” Ujar Mira.

DI KANTIN
“Cha-cha, kamu mau makan apa?“ Tanya Mira.
“Aku gak tau mau makan apa-apa!” Jawab Cha-cha.
“Oooh,ya,sudah kita makan bakso aja..?“ Tawar Mira.
“Ya, sudah- sebentar ya, aku mau pesan bakso dulu-kamu tunggu di sini ya?” Ujar Mira.

Pada saat Mira ingin membawa bakso ke meja makan kantin Mira didorong oleh Acha.

“Aaaaaaaw…..!!!!” Teriak Mira. Semua orang di kantin pada melihat ke arah Mira yang sedang terbaring di depan Qutlet yang Mira sedang pesan bakso apalagi sahabatnya.
“Ada apa ini Dhel?” Cha-cha terasa panik.
“Ini Mira, didorong oleh Acha Mir!
”Memang kamu tidak tau jawab Dhella.
“Di mana?“ Kata Cha-cha panik. Lalu Mira di bawa ke UKS.
“Terus Cha-cha ada dimana dhel” Tanya  Cha-cha.
“Ooh, Mira ada di UKS sama Aldi!” Ujar Dhella.
Cha-cha langsung lari ke UKS melihat keadaan Mira. Lalu Cha-cha bertanya kepada Mira.
“Mira, kamu kenapa kok kamu bisa didorong oleh Acha?” Tanya Cha-cha.
“Aku ingin berbalik badan gak taunya ada Acha” Jawab Mira.
“Berarti Acha mendorong kamu dong?”
“Acha memang kejam sama kita Mir!” Ujar Cha-cha kesal.
“Awas kamu Cha akan ku balas perbuatan kamu kepada sahabat aku…!“ Kata Cha-cha dalam hati.
“Ya, sudah- kamu pakai jaketku saja!” Tawar Dhella.
“Kamu mau aku temani ke toilet untuk mengganti pakaian?” Tawar Dhella.
“Terima kasih ya Dhel kamu baik sekali sama aku!” Jawab Mira.
“Ya, sudah kamu mau sendiri saja ke toiletnya?” Ujar dhella.
“ Ya,dhel aku mau sendiri saja ke toiletnya” jawab Mira.
“Terima kasih ya Dhell….!” Ujar Mira.

DIKELAS

“Kriiiiing……Kriiing……! Bel sudah berbunyi- waktunya anak kelas I SMA belajar Bahasa Inggris. Ibu yang sedang memasuki kelas I mendengar keributan dari kelas II. Bu Ranti lalu tidak menghiraukan keributan di kelasII. Lalu melihat kelas yang Bu Ranti ingin masuk. Bu Ranti mendengar keributan dikelas I. Bu Ranti langsung memasuki kelas yang dituju.
“Anak-Anak Buka Buku Hal.44…!” Ujar Bu Ranti.
“Iya …, Bu Ranti menanyakan salah satu dari mereka” Ujar Anak-Anak. Bel telah berbunyi kriiiing…kriiing…! Waktunya anak kelas I SMA menggganti pelajaran. Pelajaran terakhir adalah IPA- biologi.
Pada waktu pelajaran IPA, anak-anak pada ribut sebelum gurunya itu datang ke kelas mereka lalu Mira ditegur oleh Acha.
“Hay, Mir….! lagi ngapain sendirian aja?” Tegur Acha manis.
“Tumben tegur….! pasti kamu hanya ingin aku marah lagi seperti yang di kantin tadi…!?” Kata Mira.
“Eh.., Cha ..! sudah ada guru tuh…! kamu ngapain disini terus? Pasti kamu mau aku marah lagi kaya di kantin tadi. Sana..!kamu punya tempat duduk gak sih..? Kalau gak punya boleh duduk sama aku disini-tapikan kamu punya tempat duduk sendiri..! Sana pergi dari tempat duduk aku…!”

Berbicara dalam hati.
“Dasar anak gak tau peraturan…!” ungkap Acha dalam hati.
“Bilang apa kamu tadi Cha?!“ Mira sudah bisa mendengar kata hati yang Acha katakan tadi.
“Gak….! aku gak ngomong apa-apa kok Mir….!” Jawab Acha panik.
“Aku tau kalau kamu berbicara…! Dasar anak tidak tau peraturan….! jujur kamu Cha..?” Tegas Mira.
“Iya… aku berbicara seperti itu..!” Jawab Acha panik.
“Anak-anak….,! buka buku IPA- Biologi Hal 84, nanti kalian tulis soal yang ada di dalam buku itu…! Paham anak-anak…?!!”
“Paham Bu Yuni” Jawab anak-anak keras.
“Oke, sekarang soal itu Ibu masukkan ke buku nilai
“Wah…, bahaya nih- yang lain pada sudah selesai aku sendiri yang belum selesai…!“ Gumam Acha dalam hati.
“Siapa yang belum selesai…??” Tanya Ibu Yuni.
“Acha, kamu sudah belum” Tanya Ibu Yuni kepada  Acha.
“Saya-belum Bu..!” Jawab Acha panik.
“Kenapa kamu belum Cha?” Tanya Ibu Ranti.
“Saya sakit perut Bu dari tadi – makanya saya tidak sempat mengerjakan soal dari Ibu…” Acha beralasan.
“0ooh….ya sudah – kamu kerjakan untuk PR saja.” Ujar Ibu Ranti.

Bel berbunyi kriiiiiing…kriiiiiing……!Waktunya pulang.
“Nanti yang belum selesai, untuk PR saja….! kamu Acha, besok jangan lupa ya PR-nya dikumpulkan oleh Dhella ya Cha…!”

DIRUMAH Mira
“Assalamualaikum bi….!” Ucap Mira saat tiba di rumah.
“Wa-alaikum salam.., sudah pulang Non?”
“Iya nih bi….,! Mama mana?”
“Mama lagi pergi Non…!”
“Sama siapa Bi perginya?!”
“Sama papa Non!
“Kira–kira mama – papa pergi kemana ya bi?”
“Kira-kira bibi sih…, pergi ke luar negeri tuh non!
“Kok aku tidak diajak bi?”
“Tapi- kata mamah, cuma sebentar kok Non!”
“Tapi mama tinggalin uang kan bi?”
“Iya, Non! uangnya ada di kamar Non Mira!”
“Ooh…ya sudah – terima kasih ya bi!”
“Sama-sama, Non…!”

Tiba-tiba telepon rumah berbunyi kriiiiing………kriiiiing.
“Hallo, bisa bicara dengan Mira?”
“Hallo, ini siapa ya?”
“Ini temannya Mira bi! Miranya ada?
“Ada! tunggu sebentar ya… bibi panggilin dulu!
Non…non Mira…! ada telepon nih dari temannya…!”
“Siapa bi” Tanya Mira.
“Namanya Non Cha-cha…” Jawab bibi.
“Oooh…, tunggu sebentar bi – aku lagi mengganti pakaian…” Ujar Mira. Bibi langsung turun dari tangga.
“Tunggu sebentar ya non….! Non Miranya lagi mengganti pakaian..”
“Ooh ya,sudah..” Jawab Cha-cha.
“Hallo, ini siapa ya?“ Tanya Mira.
“Ini aku mir Cha-cha..!” Jawab Cha-cha.
“Ada apa – kamu telpon aku? atau…., kalau gak- telpon aja ka handphone aku…!“ Kata Mira.
“Mi…r, aku boleh nginap di rumah kamu gak?”Tanya Cha-cha.
“Boleh, memang di rumah kamu gak ada siapa-siapa?”Tanya Mira.
“Di rumahku tidak ada siapa-siapa Mir -mama- papa aku pergi ke luar negri!” Ujar Cha-cha.
“Mama – papa aku pergi ke luar negeri jadi aku ditinggal dech…!” Jawab Mira.
“Kakak aku juga ikut, jadi aku sendirian dirumah…” Gumam Cha-cha.

Dirumah  Mira.

“Assalammualaikum bi..! ada Mira gak?” Tanya Cha-cha.
“Wa-alaikumsalam..! ada Non, di kamarnya..!” Ujar bibi.
“Ya sudah, saya masuk dulu ya bi…” Izin Cha-cha.

Dikamar Mira

Tok……tok……tok
“Mir…., kamu lagi ngapain sendiri aja di kamar?” Tanya Cha-cha.
“Aku lagi main playstation” Ujar Mira.
“Pasti kamu lagi main playstation mobil balap ya?” Tanya Cha-cha
“Kok kamu tau kalau aku main mobil balap?” Tanya  Mira lagi.
“Kok kamu tidak belajar?” Tanya Cha-cha.
“Aku lagi males belajar nich!” Jawab Mira.
“Mir, aku boleh belajar di meja belajar kamu gak?” Tanya Cha-cha minta izin.
“Boleh saja kalau kamu belajar di meja belajar aku” Mira mengizinkan.
“Mira, kok kamu tidak mengerjakan PR IPA?” Tanya Cha-cha.
“Aku mengerjakan PR-nya nanti malam aja..!” Jawab Mira.
“Kalau aku, biasanya mengerjakannya sehabis pulang sekolah” Ujar Cha-cha.
“Kalau aku sih sehabis pulang sekolah bermain playstation dulu..!” Tambah Mira.

Pada saat Mira berbicara seperti itu bi Inah memanggil Mira.
“Non Mira, mama sudah datang….!”
“Iya bi, sebentar- aku lagi main playstation…!”
“Non, nanti mama mau pergi lagi – makanya      mamah kesini sebentar banget”
“Iya bi – aku lagi mau turun…!”
“Cepet Non…, mama sudah siap-siap untuk berangkat lagi…..!”
“Mamah….. kok berangkat lagi sih? aku dirumah sendirian dong…?!”
“Iya Mir, mama harus pergi lagi – soalnya teman mamah sakit…!”
“Siapa ma,- yang sakit?”
“Teman mama – namanya tante Nira.
“Itu kan – namanya teman aku, mah….!”
“Ya sudah…, mama pergi dulu ya – dah ditunggu sama papa diluar.

DIMALAM HARI
Mira yang sedang belajar dengan serius banget sampai-sampai Cha-cha binggung sama Mira.
“Mir, kamu kok belajarnya serius banget? aku baru lihat sahabat ku yang belajarnya serius.
“Iya – aku lagi serius karna aku ditinggal sama mama aku!”
“Oh, kirain aku  – kamu, memang seperti itu belajarnya….”
“Ya sudah, kamu jangan mengganggu aku lagi!”

“Kok kamu gitu sih sama teman sendiri?”
“Oh maaf.. aku lagi kesal sama mamah aku, habisnya sih…kamu ganggu aku terus….!”
“Mir… ultah kamu kapan?  tanggal berapa?
“Ultah aku besok, memang kenapa?”
“Gak kenapa-kenapa mir…!”

DISEKOLAH

Pada saat Mira dan Cha-cha pergi ke sekolah,  Mira dan Cha-cha bertemu temannya.
“Dhella, kamu mau bareng sama aku?”
“Kamu mau naik apa Mir, Cha?”
“Aku sama Mira mau naik angkot”
“Kamu jangan naik angkot – nanti kamu berdua terlambat!”
“Gak kok, kita sudah biasa naik angkot berdua –  tapi kita gak pernah terlambat sekolah!”
“Biasanya khan angkot datangnya lama – nanti kamu bisa terlambat sekolah lagi.!”
“Itu dia angkot nya sudah datang!” Ujar Cha-cha.
“Kamu naik mobil aku saja Mir…., ..Cha…!”
“Tapi kan kamu diantar sama supir kamu Dhel!?”
“Ya,sudah kamu sekarang naik mobil aku aja Mir…,…Cha!

Pada saat Mira dan Cha-cha menaiki mobil Dhella,  Mira jadi tidak terlambat lagi. Sesampainya di sekolah Mira dan Cha-cha bertemu Acha.
“Hay Mir…,Cha! Tadi kamu bareng siapa berangkat sekolahnya?”
“Ngapain kamu ada di sini? Sana kamu – kamu mau akau marah seperti waktu itu ya…?!”
“Gak kok Mir…! Aku gak mau bikin kamu marah lagi kok…!” Ucapa Acha.
“Ya sudah, kamu ngapain ada di sini!? Kalau aku bilang sekali lagi kamu gak pergi…., aku akan laporkan ke kepala sekolah.!” Ancamnya.
“Ya, Mir – ampun..! Aku janji sama kamu – aku tidak akan ganggu kamu lagi…!” Ungkap Acha gugup.
“Ya sudah. Sana pergi dari hadapanku…!”

Pada saat Mira pergi dari hadapan  Acha yang judes itu, Mira langsung melaporkan Acha pada kepala sekolah.
“Ada apa Mira kamu kesini?” Tanya Kepala Sekolah.
“Ini bu.., saya mau melaporkan Acha, sekarang ini dan pada hari-hari lainnya bu…” Ungkap Mira.
“Melaporkan apa mir?”
“Saya ingin melaporkan sifatnya Acha bu kepada saya bu…!”
“Maksud kamu apa mir!?”
“Acha itu anaknya licik bu! Suka bohong lagi bu…!”
“Licik? Maksud kamu apa Mir…?”
“Maksud saya, Acha tuh pernah dorong saya bu padahal saya gak tau saya salah apa sama Acha…”
“Gak mungkin..! Ibu gak percaya kata-kata kamu…!”
“Coba Ibu tanya aja sama Cha-cha- buktinya banyak Bu….!”
“Coba kamu panggil Cha-cha kesini.
“Baik Bu – saya panggil Cha-cha.”

Pada saat Mira ingin ke kelas, Mira bertemu Acha Mira pura-pura tidak melihat Acha padahal Acha sudah di depan mukanya Mira.
“Cha-cha…! kamu dipanggil sama Ibu kepala sekolah…!” Ucap Mira.
“Suruh ngapain Mir- aku dipanggil Ibu kepal sekolah?” Tanya Cha-cha.
“Aku tidak tau kamu disuruh apa sama Ibu kepala sekolah – yang penting kamu disuruh kesana dulu sama ibu kepala sekolah..!” Jelas Mira.

Di ruang kepala sekolah

“Cha, apa benar kamu dorong  Mira ?”
“Iya bu – saya lihat sendiri kalau Mira didorong sama Acha bu…!” Tambah Dhella.
“Oh– ya sudah, kamu masuk kelas dulu nanti gurunya mencari kamu lagi”

Jam istirahat
Kriiiing……… kriiiiing……… bel berbunyi dan anak-anak pun berlarian keluar kelas untuk membeli makanan. Tiba – tiba datang Acha. Ternyata Acha ingin meminta maaf pada Mira.

“Mir!! Aku.. aku…” Acha berkata terpatah – patah.
“Apaan si?? Kamu mau mengganggu kita lagi??”
“Enggak Mir, aku cuma mau minta maaf sama kalian- aku tahu aku salah dan boleh gak aku jadi temen kalian??”
“Iya boleh kok”
Akhirnya mereka berempat menjadi sahabat sejati. Dan Acha janji tidak akan menghianati Mira dan Cha – Cha.

Penulis adalah Siswa Taman Baca DE-5