prpmda

Jakarta, De-5, Perpustakaan Umum Daerah (Perpumda) Kodya Jakarta Selatan menyelenggarakan Pelatihan Teknis Pengelola Taman Baca, Perpustakaan Sekolah dan Kelurahan pada tanggal 20 Agustus 2009. Acara yang sarat dengan pengetahuan dan bimbingan praktis itu sangat berguna tentunya bagi para Pengelola Taman Baca dan Perpustakaan.

Ani Nuryanti, S.Sos mengawali acara dengan sebuah laporan tentang penyelenggaraan dan kegiatan Perpumda Jaksel, yang kini disebut KPA karena adanya penambahan fungsi di bidang kearsipan. Dalam progress report tersebut Ani mengatakan bahwa Pelatihan ini bertujuan agar para pengelola Taman Baca dan perpustakaan memiliki bekal untuk memajukan perpustakaan atau taman baca yang dikelolanya. Selanjutnya, Ir. Sri, selaku kepala Perpumda Kodya Jaksel memberikan pidato mengenai kebijakan pemerintah terkait dengan kegiatan kepustakaan sebagai dasar acuan. Dalam pidatonya, beliau mengatakan bahwa beban perpumda kini tidak semata mengurus soal buku tetapi diperluas pada bidang kearsipan.

Pelatihan tersebut juga memberikan motivasi yang disampaikan oleh Drs Asikin, MR.M.Si. Motivator yang masih muda ini memberi motivasi pada peserta dengan membuka pertanyaan mengenai waktu dan kegiatan yang dilakukan para ibu dan bapa yang hadir pada pagi hari itu. Selanjutnya motivator yang mengenakan baju warna kuning tersebut memberi penjelasan tentang definisi motivasi. Beliau memberi makna motivasi dengan mengutip apa yang dikatakan oleh John Lennon, “Bagaimana aku dapat melangkah ke depan jika aku tidak tahu jalan mana yang harus ku tempuh”.

Pelatihan Teknis untuk pengelola Taman Baca dan perpustakaan sekolah tersebut dihadiri 50 peserta yang berasal dari sekolah dan taman baca yang berada di wilayah administrasi Jakarta Selatan.

Pelatihan yang menjadi program kerja Perpumda Jaksel tersebut diakhiri dengan praktek pencatatan registrasi buku perpustakaan pada sore hari.

Nama-nama Peserta Pelatihan

1. Sri Intan Purba, SMPN 12 Jakarta (0812 9596 439)
2. Zainuddin,Staf Kelurahan Pondok Pinang (0813 1752 5552)
3. Surya Gunawan,Kelurahan Jati Padang (0858 8222 8081)
4. Madinah Al-Munawwar,Kelurahan Ciganjur (0818 0806 6993)
5. Kamso,Kelurahan Bukit Duri (0913 8443 0678)
6. Rinto Pracoyo,SMP Makarya 0812 8814 2386)
7. Marsuni,Kelurahan Manggarai Selatan (021-9618 0204)
8. Sardi, SMP Islam Al-Hidayah (021-7883 3901)
9. M.Husein, Kelurahan Pasar Manggis (021-9521 1234)
10.Dian Setiawati, SMPN 3 Manggarai 021-9807 0522)
11.Suharjatmi, SMPN 218 Pasar Minggu (0811 9319 15)
12.Sri Lestari, SMPN 16 Jakarta (0813 8977 0054)
13.Tatik, Taman Baca Satelit (021-7883 3585)
14.M. Nur Amin, SMPN 46 Jakarta (021-9861 7819)
15.Widi Atmaja, SDN Kebagusan 01 Pagi Jaksel (0857 1122 6095)
16.Wagiyo, SMPN 15 Jakarta (0818 7499 14)
17.Inne Indra Suryani, Perpustakaan Percontohan Tegal Parang (0857 1564 1305)
18.Sri Wahyuningsih, SMPN 68 Cipete III/4 Cilandak (0813 1100 0751)
19.Sriwidyati, SMPN 110 Petukangan Selatan (0856 9326 2831
20.Yeni Apriliniwati, S.Si, SMPN 124 Mampang Prapatan (0813 1889 4342)
21.Furqon Bunyamin Husein, Taman Baca DE-5 Jakarta 12720 (0882 1025 1030)

asmaliJakarta DE-5,- Buka bersama merupakan aktivitas  yang dilakukan oleh setiap instansi di Indonesia, tak terkecuali Taman Baca DE-5. Hari ini bersama Yayasan Al-Ikhlas, Taman Baca mengadakan buka bersama. Inti acara adalah santunan untuk Yatim piatu. 

Ustadz Asmali yang hadir dalam acara tersebut mengatakan bahwa ilmu menjadi alat penting bagi kehidupan baik di dunia maupun akhirat. Oleh karena itu, kepada anak-anak yang hadir ditekankan untuk mengunjungi majlis ilmu di mana saja terutama yang telah disediakan oleh Taman Baca DE-5.

Begitu pentingnya ilmu, sehingga sang ustadz mewajibkan kehadiran anak-anak ke Taman Baca tersebut sebagai syarat dan penilaian. Hal ini disebabkan minimnya kehadiran anak-anak yang selama ini menjadi binaan yayasan yang dikelolanya. Menurutnya, hingga satu tahun Taman Baca DE-5 dibuka, anak-anak binaan tersebut hanya 0% tingkat kehadirannya. Beliau menginginkan agar pembinaan dengan membaca dapat melengkapi program pembinaan intelektual yang hendak dicapai oleh Yayasan.

Ilmu menjadi alat penting untuk mencapai kesuksesan. Tidak ada sisi hidup yang ditempuh manusia tanpa ilmu. Oleh karena itu, kunjungilah majlis-majlis ilmu.

——————————————————————–

Kepedulian terhadap Anak Yatim dan Miskin

Batam Post
Oleh: Drs H DALIMI ABDULLAH SH
Pemerhati Sosial Kemasyarakatan
Kita tempuh hidup ini dan kita seberangi kehidupan penuh dengan suka dan duka. Ada yang selalu beruntung, dan ada juga yang sering dirundung malang. Di saat keberuntungan datang, apakah itu mendapat harta yang berlimpah pangkat dan jabatan kita sambut dengan bergembira. Kadang ada bersyukur dan kadang terabaikan, bahkan kadang kita lupa bahwa semua itu ujian yang datangnya dari Allah SWT. Mudah-mudahan kita termasuk orang yang mensyukuri nikmat.

Begitu juga sebaliknya hidup serba kekurangan, katakanlah dalam kondisi miskin itu juga merupakan ujian Allah. Allah akan memberi rezeki dan menghinggakan rezeki itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.

Orang yang lulus dalam ujian Allah itulah yang beruntung dalam hidupnya. Kehidupan yang ada ini merupakan materi kecil yang selalu pudar dan akan lenyap (Irdhun Qalil Wa Zhillun Zail). Orang berpunya dalam hidupnya sebagai orang yang kaya dan berpangkat punya banyak kesempatan untuk menolong orang yang belum punya atau miskin. Menyelamatkan si miskin dan yatim merupakan kewajiban yang tidak boleh diabaikan kalau kita tidak mau dicap Allah sebagai orang pendusta agama.

Ditegaskan oleh Allah dengan firman-Nya dalam Surah Al-Ma’un Ayat 1-3 yang artinya ”tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menyia-nyiakan anak yatim dan orang-orang yang tidak peduli terhadap nasib orang miskin” (Alquran).

Kita bersyukur saat ini sudah banyak berdiri Lembaga Amil Zakat (LAZ), di tingkat kota dan kecamatan. Bahkan di setiap masjid dan lembaga keuangan syariah juga mempunyai program penghimpunan dan penyaluran dana zakat infaq dan sadaqah. Mari kita manfaatkan lembaga tersebut dengan menyisihkan sebagian rezeki kita untuk membantu saudara kita yang nasibnya sedang dirundung malang. Mereka menangis berurai airmata memohon pada khaliq-Nya untuk mengubah nasibnya.

Program pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan di Indonesia sudah sering didengar oleh para nelayan, pengemis jalanan, petani dan saudara kita yang kekurangan. Lebih-lebih di saat pemilu dan pemilihan kepala daerah. Sayang nampaknya sampai hari ini tugas yang berat dan mulia itu masih belum maksimal.

Alangkah mulianya umat muslim yang telah memperhatikan dan peduli terhadap anak yatim dan orang miskin. Sudah saatnya para pejabat sampai pada lurah atau kepala desa atau tingkat yang terendah itu betul-betul memperhatikan nasib anak yatim dan miskin di daerahnya. Jumlah anak yatim dan orang miskin harus terdata dengan baik dan akurat sehingga akan memudahkan para dermawan, untuk menyalurkan bantuannya kepada yang berhak menerimanya. Termasuk bantuan pemerintah melalui BLT (Bantuan Langsung Tunai) atau dana zakat dan lain-lain, karena ini adalah  tanggungjawab bersama.

Rasulullah S.A.W mengingatkan kita dengan Sabdanya: Ana Wakafilul Yatima fil Jannati Hakadza: kata Rasulullah ”Aku dengan orang yang menyelamatkan dan menolong anak yatim nanti di surga, seperti ini dengan ”memperlihatkan jari telunjuk dan jari malangnya bersatu” tidak ada perantara. Begitu intimnya hubungan Rasul dengan orang yang menolong anak yatim selama hidupnya.

Yakinlah keridhaan Allah akan menyertai kehidupan kita dalam pengabdian ini. Sampai saat jumlah anak yatim itu belum terinventaris secara baik.   Anak yang yatim non panti saja suatu daerah cukup banyak jumlahnya, kadang kala anak itu banyak yang pintar-pintar tetapi biaya untuk melanjutkan sekolah tidak ada. Sementara panti asuhan yang resmi tidak mampu lagi menampung karena dengan keterbatasan dan fasilitas.

Orang tua mereka adalah setiap muslim dan muslimah yang ada di sekitarnya karena ayah dan ibunya telah tiada. Sangatlah diharapkan kepedulian terhadap nasib miskin yang ada di sekitar kita. Para tokoh masyarakat, ulama dan pemuka agama punya tanggung jawab besar dalam hal ini, memikirkan nasib anak kemenakan di bawah payung panjinya sebagai pimpinan di mana dia tinggal.

Secara moril dan materil wajib memperhatikan nasib si miskin dan generasi yang terlantar dalam hidupnya sebagai seorang yatim yang sangat membutuhkan uluran tangan dari tangan kita semua.

Di ingatkan oleh Rasulullah SAW, “terpikul dipundak setiap muslim nasib muslim dan generasi muslim yang akan datang”. Allah tidak akan memperhatikan kebutuhan mereka dalam hidupnya berapapun tinggi jabatan dan banyaknya harta sebelum mereka betul-betul membantu merobah nasib si miskin dan generasi yang akan datang (HR Bukhari & Muslim).

Sesungguhnya besar tempat dan lapangan ibadah kita yang sedang menunggu saat ini. Sekiranya kita mampu berhaji setiap tahun, sisihkanlah untuk satu tahun haji itu diberikan untuk kebahagiaan yatim dan miskin. Begitu juga pengeluaran zakat harta alangkah besarnya amal setiap muslim itu. Menjamin setiap yatim dan miskin membagi harta bersama mereka apalagi bagi pengusaha yang memegang jabatan saat ini ditunggu keikhlasan batin untuk benar-benar serius mengentaskannya, dengan suatu pembuktian yang dapat dipercaya. Tidak masanya lagi merekayasa atau bermain wacana berkepanjangan, jabatan itu sangat terbatas, semoga hidup kita yang ada saat ini akan selalu berada dalam ridha dan berkah Allah. Terjauh dari pendusta agama yang dibenci Allah dan dimurkai-Nya, (nauzubillah min Zalik). ***

——————————————————-

GEMPA SUMBARPADANG–Dalam sepekan ke depan murid-murid SD sampai SMU di wilayah yang terkena gempa Sumatera Barat ditargetkan sudah dapat bersekolah lagi. Departemen Pendidikan Nasional akan mengalokasikan dana untuk pembangunan kelas-kelas darurat di sekolah-sekolah yang gedungnya rusak akibat gempa.

Hal ini dikatakan Menteri Pendidikan Nasional, Bambang Sudibyo, seusai rapat dengan jajaran pimpinan Sumatera Barat di Pusat Koordinasi Pelaksanaan Penanggulangan Bencana Sumatera Barat, Rabu (6/10). Menurut dia, kelas darurat ini nantinya akan didirikan menggunakan bahan bangunan seadanya.

Lantai kelas akan disemen, namun dindingnya masih menggunakan tripleks dan atapnya dari seng. Ditargetkan kelas darurat ini akan beroperasi paling tidak selama setahun sampai pemerintah setempat selesai membangun kelas yang rusak.

Untuk pembangunan kelas darurat ini, pihak Depdiknas menyediakan sebesar Rp 8 juta rupiah per kelas. Dana tersebut akan diserahkan langsung ke pihak pemerintahan tingkat dua untuk dibangunkan kelas. Mereka diberi waktu untuk membangun kelas-kelas darurat ini dalam waktu satu minggu.

Kendati demikian, sejauh ini pihak Depdiknas belum memiliki data pasti terkait berapa kelas darurat yang harus dibangun.”Sejauh ini masih diinfentarisir, dan ditail distribusinya nanti akan di laporkan Menteri Keuangan,” ujar Bambang kepada wartawan, Rabu sore.

Menurut Gubernur Sumatera Barat, Gamawan Fauzi, sejauh ini paling tidak ada 3100-an kelas yang rusak berat dan tak bisa dipakai untuk kegiatan belajar mengajar di seluruh Sumatera Barat. Pendataan pasti menurutnya masih akan terus dilakukan guna mengetahui kebutuhan sebenarnya untuk kelas darurat di Sumatera Barat.

Selain pendirian kelas darurat, untuk sesegera mungkin melanjutkan proses belajar mengajar, sekolah-sekolah di Sumatera Barat juga dianjurkan untuk menerapkan sistem belajar bergiliran di kelas pagi dan sore. Sekolah-sekolah yang bangunannya masih memadai diharapkan bisa menampung siswa-siswi dari sekolah terdekat yang sekolahnya rusak berat. fyz/kpo

Republika online

—————————————————————————————–

Razaul Karim, an aid worker with Islamic Relief, is currently in Sumtra assisting with our emergency response after the devastating earthquake. In this blog he writes about the long-lasting impact that he fears the disaster may have on the region’s children. Razaul Karim in the earthquake zone - Indonesia

8th October 2009

“Yesterday I visited the Dr M Jamil hospital in Padang city which is treating many of those injured in the earthquake. Around three-quarters of the hospital has been completely destroyed and in amongst the debris I could see medical notes and equipment strewn around as people had made a frantic rush for safety when the earthquake struck.

One of the people I met at the hospital was nine-year-old Indah Aptria from Gunung Pengilun. She loves cycling and was on her bike after school when she felt the earth start to shake. She was in a small side street and one of the shops on this road collapsed, trapping her underneath a large piece of metal.

She told me that she was scared and was crying for her mother and father. Thankfully her father managed to rescue her but her leg had been badly broken. She has now had an operation to mend the damage to her shin and is recovering well, but I believe that the mental trauma she has suffered will take longer to heal.

Today we visited the new trauma centre set up by Islamic Relief in the village of Abung Kapur. In this region around 95 per cent of houses have been destroyed and many children like Indah have been traumatised by their experiences.

The new centre has been established near a school that was destroyed by the earthquake. Islamic Relief has set up two large tents where local children can come and learn and play and where Islamic Relief staff and volunteers will provide psychosocial support.

The children I spoke to at the centre said that when the earthquake struck they were scared that they would die, or that they would never see their parents again. Others told me that they thought it was the end of the world. I was struck at how mature these children seemed but also how a simple game of football could help them release their anxiety and be children once more.

Islamic Relief also distributed food and tents to the most vulnerable families in this village and will increase our support here over the coming days and weeks. I was really glad to find out that the water system we had installed just last year as part of our disaster preparedness programme was still operating here and was providing more than 1,000 people with clean water, which is essential in controlling the spread of disease.

The people in rural areas like Abung Kapur are not rich and many put all their money into building their homes, most of which now lie as a pile of rubble. Thankfully aid has now reached this area but in other more remote regions which have been cut off by landslides, people are still struggling with nothing and instead of tents they are living in shelters made from bits of cardboard and cloth.

After Abung Kapur we travelled further to Rukam in Padang Sago, a village where no other aid agency had yet been. Here almost the whole village was camped under one makeshift tent which offered them little protection from the wind or rain. The conditions they were living in were appalling and deeply shocked me. There were no sanitation facilities, little food and people were at serious risk of disease.

We gave people tents and food, and will return to give them further aid over the coming days to alleviate their suffering, but again I fear that in the long-term after such massive destruction, it may be the need for psychosocial support that is the greatest.”

7th October 2009

Everybody suffers

Even before we joined the Islamic Relief emergency response team in Padang, the affects of the earthquake could be felt all around us. As we stepped off the plane in Jakarta on the Indonesian island of Sumatra, I could sense that all around me local people were sharing in the grief of those who had lost loved ones in the disaster.

On the way to Padang the news came through that the search and rescue mission was coming to an end. The focus now for the humanitarian community would be on providing aid and recovering the bodies from underneath the rubble. This news had an impact on everyone, whether they were from Padang or not and made me recall one of the sayings of the Prophet Muhammad, that the Muslim community is like a body, and if one part of it is injured then the whole body suffers.

People amidst rubble

Driving into Padang the scale of devastation was overwhelming. Schools had been destroyed, roofs had fallen in and office blocks had collapsed like a pack of cards. There were mounds of rubble and sheets of metal where peoples’ homes once stood, with just tarpaulin sheets or tents in their place. At the side of the roads, children stood holding out cardboard boxes asking for food and money, while elsewhere people stood around, still unable to take in the enormity of what had happened.

In some areas the devastation has been sporadic. While five houses may have remained standing, their neighbour’s may have come crashing down. However, in the more remote villages the scenes are apocalyptic, with many villages completely wiped out.

Looking for shelter

In one of the villages we visited, I met a woman who was heavily pregnant and whose house had been completely destroyed. She was desperately searching for bits of cardboard and plastic sheeting with which to make shelter for and her five young children. Thankfully we were able to give her a tent that will offer her and her family some protection from the relentless rain.

All the people I spoke to told me how terrified they were and how they desperately needed help. As always it is the children who are the most vulnerable in these situations as their whole world is torn from beneath their feet. Young children spoke of being brave but how they were scared of living in a tent. They are clinging to what is normal and familiar and want to go back to school and play with their friends.

Islamic Relief is helping

To help children overcome the trauma of the disaster and its aftermath, Islamic Relief has decided to set up a trauma centre, where children will be cared for and be able to play and learn in a safe environment.

Islamic Relief has worked in the affected region before, having previously installed water sources in villages in Padang Pariaman District. Although the damage to these water systems has been minimal there is currently no electricity to run them. In the next day or so Islamic Relief aid workers will set up generators to ensure that people continue to have access to clean water, which is essential if the spread of disease is to be controlled.

In the last village we visited to today, I came to learn about an elderly man who had been surviving on nothing more than water for the past four days. He had been trapped but no aid had been able to reach that far. Many villages have been cut off by landslides and in these areas the scale of destruction is presenting a massive challenge for aid workers. While we ensured that he was provided with emergency food, I wondered how many other people like him were still stranded, waiting desperately for someone to come and help them.

—————————————————————————

HALAL BIHALAL

<p style=”text-align:justify;”><img title=”fury” src=”https://tamanbacalimade.files.wordpress.com/2009/10/fury1.jpg&#8221; alt=”fury” width=”200″ height=”232″ />Sekilas judul tulisan ini tidak memiliki korelasi dengan blog yang saya buat. Namun dari sudut pendidikan, acara ini sangat sarat dengan nilai dan moral yang terkait langsung dengan pendidikan.</p>
<p style=”text-align:justify;”>Halal bihalal pada mulanya adalah sebuah wadah yang dibuat oleh pemerintah jepang dalam upaya mengumpulkan kaum nasionalis dan ulama pada zaman kekuasaan jepang di Indonesia yang diselenggarakan pada tanggal satu syawal. Pada saat berkumpulnya dua kubu tersebut, sang tuan rumah – para pejabat jepang,  memberi jamuan berupa hidangan dan minuman yang halal dan juga haram. Kondisi tersebut kemudian memunculkan gagasan baru oleh para ulama yang hadir pada undangan pertemuan tersebut untuk membuat sebuah wadah lain yang menyajikan hanya hidangan dan jamuan halal. Sejak itulah pertemuan yang diselenggarakan pada bulan syawal disebut halal bihalal yang tidak dikenal di dunia Arab atau Islam.<!–more–></p>
<p style=”text-align:justify;”>Hari ini, 18 Oktober 2009 Kelurahan Pela mampang mengadakan acara tersebut dengan tema “Dengan Halal Bihalal Kita tingkatkan Kepedulian dan Lingkungan Yang Kondusif”</p>
<p style=”text-align:justify;”>Acara yang dikordinatori oleh Bapak Abdurrahim ini dimulai molor satu jam dari jadwal undangan. Acara dibuka dengan hadrah tepat jam setengah sembilan diikuti dengan sambutan ketua penyelenggara.</p>
<p style=”text-align:justify;”>Hadir dalam kesempatan itu Bapak Camat Mampang Prapatan, Danramil, Kapolsek, Dekel, PKK , para ketua RW dan RT serta tokoh masyarakat setempat.</p>
<p style=”text-align:justify;”>Halal bihalal yang baru pertamakali diadakan semasa pejabat Lurah bapak Achmad Basyaruddin ini sangat disambut oleh masyarakat khususnya para pejabat struktural di wilayah Pela Mampang.</p>
<p style=”text-align:justify;”>Hikmah dan pesan Halal Bihalal disampaikan oleh KH. Naim Fatih yang piawai menyampaikan pesan dakwahnya dengan gaya humor namun tetap tidak kehilangan bobot. Salah satu pesan penting yang disampaikan adalah bahwa modal utama dalam hidup ini adalah bersyukur dan bersyabar. Selain itu beliau juga menyinggung bahwa  yang pertama masuk syurga adalah orang miskin diikuti oleh orang kaya dan disusul oleh para pejabat. Sementara yang masuk syurga terlebih dulu adalah para pejabat disusul oleh orang kaya dan kemudian orang miskin.</p>
<p style=”text-align:justify;”>Pesaan dakwah yang disampaikan oleh KH. Naim Fatih yang sering berceramah di instansi pemerintah dan kepolisan ini sangat sejuk sehingga meskipun bobot yang disampaikan itu berat namun tetap ringan di telinga pendengar. Para pejabat yang hadirpun tidak serta merta berkecil hati saat dikatakan bahwa para pejabatlah yang paling dulu memasuki pintu neraka dan mereka pula yang paling belakang masuk ke syurga. Inilah cara mendidik yang sangat bijaksana. Wallahu a’lam bisshawab.</p>

YANG TERPILIH DAN TERTINGGAL

Mungkin Anda pernah merasakan betapa indahnya saat sebuah kompetisi baik di tingkat RT ataupun tingkat yang lebih tinggi- Anda menjadi pemenang karena masyarakat memilih Anda. Sebaliknya, perasaan negatif muncul bagi yang kalah. Perasaan manusiawi ini, secara psikologis menjadi sesuatu yang wajar dan normal saja di era modern sekarang ini. Kebahagiaan kita masih diukur oleh sesuatu yang bernilai materi.Ada yang perlu kita pahami mengenai ” terpilih dan tertinggal” dari sudut yang berbeda. Bagi yang terpilih, semestinya melakukan sebuah introspeksi apakah cara dan pola yang dipakai pemilihan itu memang murni karena kepercayaan masyarakat terhadap dirinya? Apakah kepercayaan tersebut memang datang secara sukarela atas kesadaran dan pengetahuan pemilih? Kalau dua kondisi ini menjadi landasan sehingga terpilihnya seseorang dalam sebuah kompetisi, maka yang terpilih merupakan wakil dari sebuah masyarakat yang jujur. Keterpilihan seperti inilah yang memberi kebahagiaan. Kebahagiaan bagi pemilih dan kebahagiaan bagi yang terpilih.

Bila kita setback ke zaman keemasan Islam, proses pemilihan sangat sarat dengan nilai kejujuran dan dibarengi dengan proses musyawarah yang dilandasi nilai kebenaran yang absolut. Para kandidat dipilih langsung oleh masyarakat atas dasar peran dan perilaku nyata yang dilakukannya mulai dari hal kecil sampai masalah yang lebih komplex. Tidak ada kampanye yang dibiayai oleh pemerintah ataupun pribadi. Tidak ada upaya pembentukan opini untuk memenangkan sebuah kompetisi. Musyawarah sangat unfamiliar dengan apa yang disebut “demokrasi” itu. Hal ini dikarenakan bahwa  landasan dan pola kerja kedua pola itu sangat berbeda. Musyawarah bertitik-tolak dari sebuah visi kepemimpinan samawi dan ketaqwaan serta kesalihan pribadi menjadi landasan dasarnya. Musyawarah tidak mengenal jumlah terbanyak tetapi ketaqwaan yang tinggi. Sementara demokrasi hanya didasari oleh kepentingan kekuasaan semata dan jumlah menjadi tolak ukur kemenangan seseorang. Dalam musyawarah, sebanyak apapun pemilih, tidak akan  menjamin terpilihnya seseorang. Walau hanya dua orang saja, tetapi kalau bobot taqwa yang dimiliki oleh seorang kandidat melebihi kandidat lain dengan jumlah yang lebih banyak, maka yang memiliki bobot taqwa itulah yang terpilih. Bukan yang memiliki jumlah pemilih terbanyak.

Proses yang ditempuh dalam demokrasi banyak mengalami penipuan terhadap individu dan masyarakat secara kolektif. Demokrasi bisa saja melahirkan pemimpin tanpa kualitas yang mumpuni. Terpilihnya seseorang dalam sebuah proses demokrasi sangat mudah. Cukup dengan uang dan relasi yang mau bekerja untuknya. Maka lahirlah pemimpin-pemimpin yang akhirnya hanya memikirkan kepentingan sempit tanpa memikirkan kepentingan masyarakat luas. (masih berlanjut)

Advertisements