Sejarawan Muslim Dari Al-Hakam Hingga Ibnu Khaldun

Barat banyak merujuk pada karya-karya sejarawan Muslim.

Silih berganti sejarawan Muslim bermunculan. Keberadaan mereka seakan sebuah kesinambungan dengan perkembangan Islam dari masa ke masa. Mereka menuliskan segala peristiwa yang mengiringi umat Islam.

Pada masa awal, muncul nama-nama, antara lain Ibnu Hisyam dan Ibnu Qutaybah hingga al-Tabari. Pada masa berikutnya, lahir sejarawan lain yang datang dari sejumlah wilayah Islam, seperti Mesir. Sejumlah catatan mengungkapkan, Islam memasuki Afrika melalui Mesir.

Perkembangan ini pun tak luput dari catatan sejarawan Muslim. Sebut saja, Ibnu Abd al-Hakam, yang menuliskan sejarah awal Mesir dalam bukunya berjudul Futuh Misr wal Maghrib wa Akhbaruha atau Penaklukan Mesir dan Maghribi. Buku ini terdiri atas tujuh jilid.

Dalam buku ini, juga diuraikan mengenai penaklukan yang dilakukan Muslim. Al-Hakam memberikan uraian lengkap dalam karyanya tersebut. Karyanya ini juga sampai ke London, Inggris, dan Paris, Prancis serta pernah diterbitkan Yale University Press pada 1920-an.

Jilid I buku al-Hakam mengisahkan sejumlah keistimewaan yang dimiliki Mesir dan sejarah kuno mengenai negara tersebut. Sementara itu, buku jilid II menceritakan penaklukan Muslim di bawah pimpinan Amr Ibn al-As.

Sedangkan jilid III karya al-Hakam, berisi tentang khitat atau permukiman Muslim di al-Fustat atau Kairo kuno dan al-Jiza atau Gizh, serta penguasaan atas Alexandria. Buku jilid IV mengisahkan langkah-langkah Amr Ibn al-As di Lembah Nil.

Selain itu, al-Hakam memberikan penjelasan pula mengenai penaklukan oasis al-Fayyum, Barqa dan Tripoli, serta kematian Al-As. Dalam jilid buku yang sama, ia menceritakan ekspansi Muslim ke Ifrikiya, sebuah provinsi kekuasaan Roma di Afrika.

Pun, tentang pertempuran pasukan Muslim dengan Nubian di Afrika Selatan. Pada jilid V, al-Hakam mengungkapkan catatannya mengenai penaklukan di Afrika Utara dan Spanyol. Jilid VI buku ini dikenal dengan qadis Mesir sedangkan jilid VII berisi tradisi Mesir.

Pada masa berikutnya, muncul sejarawan lainnya dari Mesir, yaitu Ibnu al-Daya, yang meninggal pada 951 Masehi. Ia menulis buku Sirat Ahmad bin Tulun Wa’bnihi Khumarawayh. Buku ini merupakan biografi Ibnu Tulun dan putranya yang bernama Khumarawayh.

Ibnu Tulun merupakan penguasa pertama Dinasti Tulun di Mesir. Di masa Mamluk, banyak pula sejarawan yang bermunculan. Salah satu sejarawan pada masa itu adalah Muhyi al-Din Ibn Abd al-Zahir, yang hidup pada 1223 hingga 1292.

Al-Zahir menulis tentang biografi Baybar, yang memerintah pada 1260-1277. Ia juga menuliskan biografi penguasa-penguasa berikutnya, seperti biografinya Qala’un yang berkuasa pada 1279 hingga 1290 dan putra Qala’un yang bernama al-Ashraf. Ia berkuasa pada 1290 sampai 1293.

Sejumlah catatan mengungkapkan, al-Zahir mendapatkan pendidikan Islam tradisional, kemudian menjadi seorang kepala juru tulis pada masa Baybar. Ia bertanggung jawab membuat draf surat-surat negara. Biografi Baybar ia tulis saat menjabat sebagai kepala juru tulis.

Ada pula sejarawan lainnya pada masa itu yang juga dikenal sebagai pejuang, yaitu Baibars Rukn al-Din ad-Dawadar al-Mansuri. Ia menduduki posisi tinggi di bidang administrasi saat Mamluk di bawah kekuasaan al-Malik an-Nasir.

Al-Mansuri dikenal sebagai salah satu sejarawan paling otoriter pada masa tersebut. Sebelumnya, ia berkecimpung di dunia militer dan terlibat dalam sejumlah pertempuran, di antaranya pertempuran dengan pasukan Perang Salib dan Mongol di Suriah, Palestina, dan Asia Kecil.
Pertempuran yang melibatkan al-Mansuri itu terjadi saat Qala’un dan al-Ashraf al-Khalil berkuasa. Saat al-Malik an-Nasir naik takhta pada 1293, al-Mansuri baru tiba dari sebuah ekspedisi militer. Ia kemudian mendapatkan jabatan tertinggi dalam kemiliteran.

Al-Mansuri juga diberi tanggung jawab untuk menangani korespondensi yang dilakukan an-Nasir. Di sisi lain, ia pun seringkali ditugasi untuk menjalankan sebuah misi. Penugasan ini, misalnya, terjadi pada awal 1294-1295.

Al-Mansuri ditugaskan ke Alexandria untuk menumpas perompakan terhadap kapal-kapal yang sedang berlayar di wilayah tersebut, yang dilakukan kaum Frank. Juga, mendistribusikan pajak orang kaya untuk menyantuni orang-orang miskin.

Ketika Lagin menjadi sultan pada 1296-1297, al-Mansuri kehilangan jabatannya, namun kemudian kembali mendapatkan posisi saat an-Nasir ditasbihkan kembali menjadi sultan. Setelah memainkan sejumlah peran dalam pemerintahan, al-Mansuri yang telah renta meninggal pada 1325.
Al-Mansuri meninggalkan dua karya yang didasarkan pada apa yang dia alami dan saksikan. Karyanya yang berjudul Zubdat al-Fikra fi Tarrikh al-Higra, berisi tentang sejarah umum Islam hingga 1324.

Buku lainnya adalah At-Tuhfa al-Mulikiya fi Daula at-Turkiya.
At-Turkiya merupakan kompilasi dari Zubdat al-Fikra. Pada abad ke-14, lahir sejarawan lain dari Mesir, al-Maqrizi. Ia merupakan sejarawan terkemuka di masanya. Selain sebagai sejarawan, ia juga pakar hukum dan seorang pengajar.

Al-Maqrizi banyak mengumpulkan bahan sejarah untuk membuat kompilasi karya besarnya, Kitab al-Mawaiz wal-Itibar fi Dzikir al-Khitat wal-Athar. Buku ini terkait topografi, arkeologi, dan sejarah Mesir.
Secara khusus, buku karya al-Maqrizi ini menguraikan tentang hal-hal yang terkait dengan Kairo. Ia mengisahkan pula permukiman pertama umat Islam di Mesir. Buku ini hanya tersedia dalam dua volume yang dicetak di Bulaq pada 1853.

Namun, sekarang terdapat edisi modernnya dari Lebanon. Al-Maqrizi juga membuat sebuah kompilasi lainnya, yang berjudul Kitab al-Suluk li Ma’rifat Duwal al Muluk atau Kitab Pengetahuan tentang Dinasti Raja-raja. Buku tersebut telah diterjemahkan ke bahasa Prancis.

Buku al-Maqrizi ini berisi tentang sejarah Mesir sejak Sultan Salahuddin dan sedikit uraian pada masa pra-Islam, masa Nabi Muhammad, serta masa empat khalifah dari Dinasti Umayyah, Abbasiyah, Buwayhid, dan Seljuk.

Dan puncaknya, tersebutlah nama Ibnu Khaldun. Ia dikenal sebagai sejarawan Muslim terbesar. Ia adalah sejarawan asal Tunisia yang lahir pada 1332 dan meninggal dunia pada 1406. Ide-idenya yang brilian memberikan pengaruh besar terhadap pemikir Timur dan Barat.

Ibnu Khaldun telah karib dengan beragam peristiwa, petualangan, kehidupan ilmiah, ataupun politis. Namun, ia lebih dikenal sebagai sejarawan. Selain itu, Ibnu Khaldun juga memiliki banyak pemikiran dan ide cemerlang di bidang lainnya.

Misalnya, Ibnu Khaldun melontarkan gagasannya tentang konsep sosiologi dan ekonomi. Konsep-konsepnya tentang ekonomi telah dikenal bahkan sebelum muncul konsep ekonomi yang diusung oleh ekonom Barat, seperti Adam Smith (1723-1790) dan David Ricardo (1772-1823).

Pada usia remajanya, Ibnu Khaldun sudah banyak membuat berbagai macam tulisan baik mengenai sejarah, ekonomi, maupun sosiologi. Bahkan, tulisannya sudah dikenal di berbagai tempat sebab mengandung pemikiran-pemikiran yang cemerlang.

Tak heran jika Ibnu Khaldun saat remaja dikenal sebagai remaja yang istimewa. Sebab, remaja seusianya pada umumnya belum memiliki pemikiran mendalam tentang sebuah permasalahan. Namun, ia mampu melakukannya.
Sejak dini, Ibnu Khaldun memang sangat peka terhadap lingkungannya. Ia rajin mengamati kehidupan yang ada di sekitarnya. Lalu, ia menelaah semuanya dan dirumuskan dalam sebuah pemikiran yang brilian. Akhirnya, ia mampu melahirkan sebuah karya fenomenal.

Bahkan, karya Ibnu Khaldun hingga kini masih menjadi bahan perbincangan. Karyanya itu adalah sebuah buku yang berjudul Muqqadima atau Pendahuluan. Buku ini berisi segala hal tentang sejarah.

Dalam bukunya, Ibnu Khaldun menuliskan aturan atau kriteria untuk membedakan fakta yang benar-benar ada dan sebuah rekayasa. Ia mengatakan, langkah ini perlu dilakukan sebab sebuah peristiwa kadang terjadi dalam sebuah latar belakang yang absurd. ed: ferry

Sejarawan dari Spanyol

Kekuasaan Islam membentang hingga Spanyol. Dari sana, sejarawan Muslim juga bermunculan. Ibnu Abd Rabbihi merupakan salah satu sejarawan Muslim asal Spanyol. Ia lahir di Kordoba pada 860 dan meninggal pada 940. Ia menulis al-Iqd al-Farid.

Rabbihi menulis tentang kekuasaan Umayyah di Spanyol. Di sisi lain, ia juga ahli dalam menulis puisi, termasuk puisinya yang terkenal dalam ekspedisi militer yang dipimpin oleh Abd ar-Rabman III an-Nasir III. Rabbihi memang tak lekat dikenal sebagai sejarawan.

Sebab, Rabbihi lebih banyak menulis puisi. Karya lainnya mengenai keberadaan kekuasaan Islam di Spanyol adalah Akhbar Majmua fi Fath al-Andalus atau Kumpulan Catatan Penaklukan Andalusia. Tak diketahui siapa penulisnya yang hidup pada masa Abd ar-Rabman III an-Nasir III.
An-Nasir dikenal sebagai pendiri kekhalifahan di Spanyol pada 912-961 Masehi. Selain buku tersebut, ada buku lainnya juga berjudul Tarikh Iftitah al-Andalus atau Sejarah Penaklukan Andalusia, yang ditulis Ibn al-Qutiyya yang meninggal dunia pada 977.

Kedua buku tersebut dikenal di Barat paling tidak sejak abad ke-19. Menariknya, penulis Tarikh Iftitah al-Andalus merupakan keturunan dari penguasa sebelumnya di Spanyol, sebelum kekuasaan Islam merambah ke wilayah tersebut.

Al-Qutiyya dikenal pula sebagai cendekiawan Muslim yang memiliki pengetahuan luas mengenai sejarah. Dalam bukunya itu, ia menulis tentang khalifah-khalifah Umayyah awal di Spanyol. Banyak penulis modern juga merujuk pada karyanya itu.

Salah seorang penulis yang mengutip al-Qutiyya adalah Reinaud dalam bukunya berjudul Invasion des sarrazins. Sejarawan lainnya adalah Said al-Andalusi yang meninggal pada 1034. Ia dikenal pula sebagai seorang hakim di Toledo.

Buku al-Andalusi yang terkenal adalah Tabaqat al-Umam. Ia mengisahkan tentang spektrum peradaban di Spanyol hingga semasa hidupnya. Ia juga menuliskan bangsa dan kontribusinya pada ilmu pengetahuan, yaitu Arab, Hindu, Iran, Yunani, dan Yahudi.

Sebut pula, Ibnu Hayyan yang meninggal dunia pada 1076. Ia berasal dari Kordoba. Ia dikenal sebagai sejarawan besar. Ayahnya merupakan sekretaris penguasa Spanyol pada saat itu, yakni Ibnu Abi Amir al-Mansur.

Kedudukan ayahnya itu telah memberikan pengaruh pendidikan yang baik bagi Hayyan. Di sisi lain, ia pun mendapatkan bimbingan dari sejumlah guru ternama, di antaranya Abu Hafs Umar bin Husyan bin Nabil. Ada sejumlah buku yang dikaitkan dengan Ibnu Hayyan.

Buku-buku tersebut adalah Tarikh fuqaha Cordova, Al-Kitab al ladi jama’a fihi bayna kitbay al-Qubbashi wa Ibn Afif, Intijab al-Jamil li Ma’athir Banu Khatab, dan Al-Akhbar fi’l dawla al-Amiriya yang terdiri atas 100 volume. meta, ed: ferry
( -)

Sumber: http://www.republika.co.id/launcher/view/mid/22/kat/36